Add
Pin images from any website or computer of you
Upload a Pin

Add a pin
Find Images

    Create a Board

    Banner

    PRPBBI - Pesta 2014 - Paampehon Bulang-bulang

    On 10 Oct 2020 - Rate this article ( 0 Votes )  - Ditulis oleh Maloni Parapat - Dilihat: 230 - Kategori: Berita & Kegiatan - 0 Comments

    Menjadi Raja berkat Karya

    Dengan diiringi musik tradisional Batak gondang dan uning-uningan, lima pasangan suami istri dari perwakilan marga Parapat se-Indonesia manortor sambil membawa bulang-bulang.


     

    Bulang-bulang terdiri dari hohop, sampe­sampe, sortali, hajut piso halasan, dan tongkat tunggal panaluan.

    Atribut berupa perangkat pakaian kebesaran adat Batak, yakni pengikat kepala dan sarung berwarna keemasan, tas anyaman manik­manik kecil tempat sirih, makanan, serta perhiasan sang istri, pisau berbentuk keris dan tongkat berhiaskan kepala orang itu, diberikan kepada Laksda (Purn) Farel Mangapul Parapat PhD, 81, beserta sang istri Rusti Lukeria Harianja, pada Sabtu (22/3) di GPU St Nahanson Parapat Jln Wibawa Mukti No.131, Komsen, Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.

    Pada acara paampehon (pemberian) bulang­bulang atau pemberian gelar Raja Mangaranap itu, atribut bulang-bulang langsung dikenakan kepada Farel dan sang istri, sebagai tanda penobatan raja. Acara adat pagi itu disaksikan sekitar 500-an perwakilan marga Parapat se­Indonesia.

    Selain marga Parapat, hadir pula perwakilan marga-marga Bor-bor Marsada (masih satu rumpun dengan Parapat), seperti Matondang, Sipahutar, Batubara, Pasaribu, Hararap, Pasaribu, dan Tahihoran.

    Kemudian disaksikan pula oleh utusan hula­hula (paman daripihak keluarga istri dan ibu), yakni hula-hula Masopang, Bonatulang Simangunsong, tulangrorobot Lumban Tobing, tulang Panggabean, dan hula-hula Harianja.

    Seusai mengenakan atribut bulang-bulang, Farel pun mandok hata (pidato sambutan). Dalam sambutannya, kakek enam cucu tersebut mengajak marga Parapat, khususnya generasi muda, untuk bersatu. ia pun mengatakan setiap marga Parapat adalah Raja Mangaranap.

    Setelah upacara paampehon bulang-bulang tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan acara manortor (menari). Pihak pertama yang manortor ialah keluarga besar Parapat, kemudian marga-marga yang masih serumpun dengan Parapat (Bor-bor Marsada), dan terakhir tortor hula-hula.

     

    Langka

    "Upacara pemberian gelar raja ini termasuk langka di kalangan orang Batak. Sebabnya, tidak sembarang orang bisa menerimanya," ujar Bertho Pasaribu, 55, pemangku adat dari Lembaga Adat Tapanuli Utara di Tarntung, Sumatra Utara.

    Bertho yang hadir dari Tarutung untuk menjadi pemandu upacara pemberian gelar tersebut mengatakan gelar raja bukanlah ketua persatuan marga yang lazim ada pada masyarakat Batak.

    "Ketua marga itu dipilih per periode, kalau raja selamanya melekat pada diri orang yang mendapat gelar," tambah Bertho.

    Pemberian gelar raja itu, jelasnya, ada dua jenis, yakni formal dan seremonial. Dalam acara seremonial, pemberian gelar raja diberikan kepada pihak luar, misalnya pejabat atau tokoh yang datang ke tanah Batak.

    Adapun pemberian gelar yang diterima Farel masuk kategori formal yang melekat selamanya.

    Lebih lanjut, Bertho menjelaskan, konsep penobatan raja pada marga Batak berbeda dengan konsep di masyarakat Jawa (Yogyakarta dan Solo) yang didasarkan garis keturunan.

    "Orang Batak tidak mengenal darah biru atau ningrat. Kalau di Jawa kan gelar raja melekat sejak lahir bagi mereka yang punya garis keturunan raja."

    Sebaliknya, gelar raja pada marga Batak, lanjutnya, diberikan kepada mereka yang sudah berkarya atau berbuat banyak bagi masyarakat umum, di masyarakat Batak, khususnya di marga Parapat.

    Itulah sebabnya sekalipun seseorang itu kaya raya belum tentu bisa diberi gelar raja. Dan pemberian gelar bukan cuma melihat track record si suami, melainkan juga sang istri.

    Gelar raja di marga Batak, lanjut Bertho, bukan diminta, melainkan diberikan melalui proses penilaian terhadap perjalanan hidup si calon  penerima gelar.

    Rapat yang memakan waktu lumayan lama (enam bulan) itu akhirnya memutuskan gelar Raja Mangaranap yang artinya memikirkan visi ke depan untuk generasi mendatang. Selain itu, sang raja menoleh atau merangkul semua.

    Gelar sernpa ju ga pernah diberikan marga Silalahi untuk TB Silalahi, marga Sitorus untuk pengusaha DL Sitorus, Gustirawan Pasaribu, Dirut Bank Sumut, dan beberapa tokoh lainnya.

    Pada kesempatan yang sama, ketua panitia pemberian gelar raja, Sabungan Parapat, menambahkan pemberian gelar Raja Mangaranap didasari alasan bahwa Farel dinilai tidak sombong, berbuat, dan memikirkan ke depan untuk generasi selanjutnya.

     

    Ingin bersatu walau kecil

    Seusai menyandang gelar Raja Mangaranap, pasangan Farel dan Rusti merasa tidak ada yang bernbah dalam menjalani hidup sehari­ hari. Semua berjalan  normal. "Karena sejak dulu pun rumah saya selalu terbuka bagi marga Parapat. Bahkan  waktu saya masih miskin. Pada 1964 sekembali dari AS, waktu itu masih mayor, saya ingin marga Parapat bersatu walau kecil," ujar pensiunan perwira AL itu.

    Bahkan dalam sebuah Rapim ABRI waktu itu, Farel sepanjang karier militernya di bidang pendidikan mengatakan ia memiliki lima minoritas.

    "Saya bilang minoritas pertama saya bukan orang Jawa, kedua saya bukan muslim, ketiga saya bukan angkatan darat, keempat karier militer saya bukan di jalur teritorial, dan di kalangan masyarakat Batak pun marga saya minoritas," tutur Farel berkelakar.

    Itulah sebabnya, saat memberi kata sambutan seusai penganugerahan gelar raja, pemilik SMK di Sipoholon Tarutung itu mengatakan bahwa semua marga Parapat adalah Raja Mangaranap yang artinya harus bisa mengayomi.

    Di sisilain, Rusti mengatakan gelar raja yang disandang sang suami justru menjadi beban moral, dalam arti keluarga besarnya harus menjaga sikap, etika, norma-norma, martabat, serta harus lebih terbuka lagiterhadap marga Parapat. (M-3)

     

    RosMERY  C S1HOMBING / MI

     

    Enjoyed this article? Share it

    About The Author

    Want to reach this author?